بسم الله الر حمن الر حيم
Soal 13: Apakah orang yang menamakan diri dengan salafi itu dianggap orang yang mengelompok?
Jawab:
Menamakan diri dengan salafiyyah jika memang benar-benar, maka tidaklah mengapa.26 Adapun hanya sekedar pengakuan, maka tidak boleh baginya untuk menamakan diri dengan salafiyyah sementara ia tidak berada di atas manhaj salaf.
Asy'ariyyah -misalnya- mengatakan "kami adalah ahlussunnah wal jama'ah". Ini tentunya tidak benar, karena mereka tidak berada di atas manhaj ahlussunnah wal jama'ah. Demikian juga mu'tazilah yang menamakan diri mereka sebagai orang-orang yang muwahid (bertauhid).
Asy'ariyyah -misalnya- mengatakan "kami adalah ahlussunnah wal jama'ah". Ini tentunya tidak benar, karena mereka tidak berada di atas manhaj ahlussunnah wal jama'ah. Demikian juga mu'tazilah yang menamakan diri mereka sebagai orang-orang yang muwahid (bertauhid).
Semua mengaku punya hubungan dengan Laila
Sementara Laila menolak pengakuan mereka
Orang yang mengira bahwa ia berada di atas manhaj ahlussunnah wal jama'ah tentu ia akan mengikuti jalannya ahlussunnah wal jama'ah dan meninggalkan orang-orang yang menyelisihinya. Adapun jika ia menginginkan untuk menyatukan antara dhab (biawak padang pasir-ed) dengan ikan paus -sebagaimana yang mereka katakan- artinya menyatukan antara binatang melata padang pasir dengan binatang laut, maka ini mustahil. Begitu juga menyatukan antara api dengan air dalam satu wadah. Oleh karenanya ahlussunnah tidak akan pernah bersatu dengan madzhab orang yang menyelishinya seperti khawarij, mu'tazilah dan para hizbiyyun (orang-orang yang membuat golongan sendiri dan membangun loyalitas serta permusuhan di atasnya, pent.) dari mereka yang menamakan diri sebagai muslim masa kini. Orang tadi ingin menyatukan anatara kebathilan orang sekarang dengan manhaj salaf, "maka tidak ada yang dapat memperbaiki akhir dari umat ini kecuali sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya". Ringkasnya, wajib untuk memisahkan dan membersihkan segala perkara.
_______________________________
[26] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Fatawa (4/149) dengan redaksi sebagai berikut: "Tidak ada cela bagi orang yang menampakan manhaj salaf dan menisbatkan diri kepadanya bahkan wajib menerima penisbatan tersebut darinya secara ijma'. Karena manhaj salaf dipastikan kebenarannya."
Saya katakan: Perhatikan, wahai pembaca!! Ucapan Syaikhul Islam yang telah beliau sampaikan delapan abad yang lalu. seakan-akan beliau membantah sebagian orang sekarang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu sementara ia mengatakan: Barang siapa mewajibkan kepada salah seorang untuk menjadi seorang ikhwani, salafi, tablighi ataupun sururi, maka ia harus diminta bertaubat. Jika ia mau bertaubat maka itu yang diharapkan dan jika tidak maka dibunuh!!
la mengatakannya dalam sebuah kaset yang tersebar luas di kalangan para pemuda dengan judul Firra minal Hizbiyyah Firaraka minal Asad (Larilah dari kekelompokon sebagaimana larimu dari kejaran singa, pent.). *)
Saya katakan: Subhanallah! Bagaimana bisa jiwanya merasa lapang untuk mengumpulkan antara manhaj salaf yang banar dengan berbagai manhaj dan kelompok bid'ah yang sesat serta salah?!
Pertanyaan kita terhadap orang yang hidup di negeri tauhid ini -dengan tesisnya dalam bidang hadits dan telah mencapai gelar Doktor baru-baru ini-: Jika kamu tidak mau jadi salafy, mau jadi apa kamu ini?!
Al 'Alamah Abdul 'Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah telah ditanya: Apa pendapat anda tentang orang yang menamakan dirinya dengan salafy atau atsary. Apakah Itu merupakan rekomendasi terhadap diri sendiri?
Beliau yang terhormat rahimahullah menjawab: Jika ia benar-benar seorang atsary atau salafy, maka tidaklah mengapa. Sebagaimana ulama salaf mengatakan: fulan salafy, fulan atsary, merupakan rekomendasi yang mesti dan wajib dilakukan. Dari ceramah kaset dengan judul "Hak seorang muslim" pada tanggal 16/1/1413 H di kota Thaif.
Asy Syaikh Bakr Abu Zaid berkata: Jika dikatakan; salaf, salafiyyun atau kepada nenek moyang mereka salafiyyah (yang telah berlalu), maka ini merupakan nisbat kepada salafusshalih yaitu seluruh shahabat dan semua orang yang mengikuti mereka dengan baik Bukannya orang yang cenderung kepada hawa nafsunya. Orang-orang yang kokoh di atas manhaj nabi, mereka dinisbatkan kepada para pendahulu mereka yang shalih dalam masalah ini. Maka dikatakan kepada mereka; salaf atau salafiyyun, sedangkan nisbat mereka salafy, karena kata salaf yang dimaksud adalah salafusshalih.
Kata ini jika disebut begitu saja (tanpa embel-embel), maka yang dimaksud adalah semua orang yang berjalan meneladani para shahabat walaupun ia hidup di masa kita ini. Seperti inilah ucapan para ulama.
Penisbatan ini sama sekali tidak mempunyai pengaruh yang mengeluarkan dan konsekuensi kitab dan sunnah. Ini merupakan penisbatan yang tidak pernah terpisahkan dari generasi pertama walau hanya sekejap. Bahkan penisbatan ini merupakan bagian dari mereka dan kepada mereka. Adapun orang yang menyelisihi mereka dengan sebuan nama atau simbol maka tidaklah seperti itu walaupun ia hidup di tengah-tengah dan di masa mereka. Hukmul Intima' hal.46 cet. ke-2.
Beliau juga mengatakan: Jadilah kamu seorang salafy yang benar-benar. Hilyah Thalibi Ilmi halaman 8.
Saya katakan: Penisbatan seperti ini biasa digunakan dalam kitab-kitab biografi dan sejarah.
Ini Al Imam Adz Dzahabi berkata tentang biografi Muhammad bin Muhammad Al Bahrani: Beliau seorang yang beragama, baik dan salafy. Mu'jam Asy Syuyukh (2/34)
Sementara Laila menolak pengakuan mereka
Orang yang mengira bahwa ia berada di atas manhaj ahlussunnah wal jama'ah tentu ia akan mengikuti jalannya ahlussunnah wal jama'ah dan meninggalkan orang-orang yang menyelisihinya. Adapun jika ia menginginkan untuk menyatukan antara dhab (biawak padang pasir-ed) dengan ikan paus -sebagaimana yang mereka katakan- artinya menyatukan antara binatang melata padang pasir dengan binatang laut, maka ini mustahil. Begitu juga menyatukan antara api dengan air dalam satu wadah. Oleh karenanya ahlussunnah tidak akan pernah bersatu dengan madzhab orang yang menyelishinya seperti khawarij, mu'tazilah dan para hizbiyyun (orang-orang yang membuat golongan sendiri dan membangun loyalitas serta permusuhan di atasnya, pent.) dari mereka yang menamakan diri sebagai muslim masa kini. Orang tadi ingin menyatukan anatara kebathilan orang sekarang dengan manhaj salaf, "maka tidak ada yang dapat memperbaiki akhir dari umat ini kecuali sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya". Ringkasnya, wajib untuk memisahkan dan membersihkan segala perkara.
_______________________________
[26] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Fatawa (4/149) dengan redaksi sebagai berikut: "Tidak ada cela bagi orang yang menampakan manhaj salaf dan menisbatkan diri kepadanya bahkan wajib menerima penisbatan tersebut darinya secara ijma'. Karena manhaj salaf dipastikan kebenarannya."
Saya katakan: Perhatikan, wahai pembaca!! Ucapan Syaikhul Islam yang telah beliau sampaikan delapan abad yang lalu. seakan-akan beliau membantah sebagian orang sekarang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu sementara ia mengatakan: Barang siapa mewajibkan kepada salah seorang untuk menjadi seorang ikhwani, salafi, tablighi ataupun sururi, maka ia harus diminta bertaubat. Jika ia mau bertaubat maka itu yang diharapkan dan jika tidak maka dibunuh!!
la mengatakannya dalam sebuah kaset yang tersebar luas di kalangan para pemuda dengan judul Firra minal Hizbiyyah Firaraka minal Asad (Larilah dari kekelompokon sebagaimana larimu dari kejaran singa, pent.). *)
Saya katakan: Subhanallah! Bagaimana bisa jiwanya merasa lapang untuk mengumpulkan antara manhaj salaf yang banar dengan berbagai manhaj dan kelompok bid'ah yang sesat serta salah?!
Pertanyaan kita terhadap orang yang hidup di negeri tauhid ini -dengan tesisnya dalam bidang hadits dan telah mencapai gelar Doktor baru-baru ini-: Jika kamu tidak mau jadi salafy, mau jadi apa kamu ini?!
Al 'Alamah Abdul 'Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah telah ditanya: Apa pendapat anda tentang orang yang menamakan dirinya dengan salafy atau atsary. Apakah Itu merupakan rekomendasi terhadap diri sendiri?
Beliau yang terhormat rahimahullah menjawab: Jika ia benar-benar seorang atsary atau salafy, maka tidaklah mengapa. Sebagaimana ulama salaf mengatakan: fulan salafy, fulan atsary, merupakan rekomendasi yang mesti dan wajib dilakukan. Dari ceramah kaset dengan judul "Hak seorang muslim" pada tanggal 16/1/1413 H di kota Thaif.
Asy Syaikh Bakr Abu Zaid berkata: Jika dikatakan; salaf, salafiyyun atau kepada nenek moyang mereka salafiyyah (yang telah berlalu), maka ini merupakan nisbat kepada salafusshalih yaitu seluruh shahabat dan semua orang yang mengikuti mereka dengan baik Bukannya orang yang cenderung kepada hawa nafsunya. Orang-orang yang kokoh di atas manhaj nabi, mereka dinisbatkan kepada para pendahulu mereka yang shalih dalam masalah ini. Maka dikatakan kepada mereka; salaf atau salafiyyun, sedangkan nisbat mereka salafy, karena kata salaf yang dimaksud adalah salafusshalih.
Kata ini jika disebut begitu saja (tanpa embel-embel), maka yang dimaksud adalah semua orang yang berjalan meneladani para shahabat walaupun ia hidup di masa kita ini. Seperti inilah ucapan para ulama.
Penisbatan ini sama sekali tidak mempunyai pengaruh yang mengeluarkan dan konsekuensi kitab dan sunnah. Ini merupakan penisbatan yang tidak pernah terpisahkan dari generasi pertama walau hanya sekejap. Bahkan penisbatan ini merupakan bagian dari mereka dan kepada mereka. Adapun orang yang menyelisihi mereka dengan sebuan nama atau simbol maka tidaklah seperti itu walaupun ia hidup di tengah-tengah dan di masa mereka. Hukmul Intima' hal.46 cet. ke-2.
Beliau juga mengatakan: Jadilah kamu seorang salafy yang benar-benar. Hilyah Thalibi Ilmi halaman 8.
Saya katakan: Penisbatan seperti ini biasa digunakan dalam kitab-kitab biografi dan sejarah.
Ini Al Imam Adz Dzahabi berkata tentang biografi Muhammad bin Muhammad Al Bahrani: Beliau seorang yang beragama, baik dan salafy. Mu'jam Asy Syuyukh (2/34)
Maka penisbatan kepada salaf merupakan penisbatan yang semestinya dilakukan sehingga menjadi jelas orang yang benar-benar salafy dari orang yang bersembunyi di belakang mereka dan sehingga perkaranya menjadi tidak samar bagi setiap orang yang ingin meneladani mereka serta menenun dengan alat tenun mereka.
Apabila madzhab-madzhab yang menyimpang dan kelompok-kelompok yang sesat serta menyesatkan itu semakin banyak, maka orang yang berada di atas kebenaran akan mengumumkan penisbatan mereka kepada salaf dalam rangka berlepas diri dari orang-orang yang menyelisihinya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada nabi-Nya dan kaum mukminin:
"Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Ali 'Imran 6)
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?"
"Dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik."
*) Setelah selesainya kitab ini sampai kepadaku beberapa lembar kertas yang berisi ralat dari 'Aidh Al Qarni terhadap beberapa kesalahannya. Saya mendapati di antaranya ralat dari ketergelinciran ini. Sebagai perwujudan sikap adil, maka kamipun menyebutkan ruju'nya. dengan tetap berhati-hati terhadap ralat dan metode yang digunakannya. la menamakan makalah tersebut dengan judul Mughalithat. la mengatakan: Yang ke-14: Saya telah mengatakan dalam sebuah kaset! Dengan judul "larilah kamu dari hizbiyyah sebagaimana larimu dari singa": "Barang siapa yang mewajibkan kepada manusia untuk menjadi seorang ikhwany, tablighy atau salafy maka ia harus diminta bertaubat. Jika ia mau bertaubat maka itu yang diharapkan dan jika tidak maka dibunuh."
"Ungkapan ini murni kesalahan dari saya dan saya beristighfar kepada Allah ‘Azza wa Jalla darinya. Maksud saya sebenarnya adalah orang yang melakukan hal tersebut sungguh telah membuat syariat baru. Akan tetapi bagaimana pun juga itu merupakan suatu kesalahan dan saya minta udzur. Sayapun meyakini bahwa madzhab salaf adalah madzhab yang benar dan wajib bagi seluruh manusia untuk mengikuti serta menelusuri jalannya”. Sekian nukilan dari lembaran tersebut.
[Dari: Al Ajwibah Al Mufidah ’an As’ilatil Manahij Al Jadidah; Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan; Penyusun: Jamal bin Furaihan al Haritsi; Edisi Indonesia: Jawab Tuntas Masalah Manhaj; Hal: 46-50; Penerjemah: Abu Hudzaifah Yahya dan Abu Luqman; Muroja’ah: Al Ustadz Abu Muhammad Idral Harits Tholib; Penerbit: Pustaka Al Haura’]
Apabila madzhab-madzhab yang menyimpang dan kelompok-kelompok yang sesat serta menyesatkan itu semakin banyak, maka orang yang berada di atas kebenaran akan mengumumkan penisbatan mereka kepada salaf dalam rangka berlepas diri dari orang-orang yang menyelisihinya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada nabi-Nya dan kaum mukminin:
"Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Ali 'Imran 6)
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?"
"Dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik."
*) Setelah selesainya kitab ini sampai kepadaku beberapa lembar kertas yang berisi ralat dari 'Aidh Al Qarni terhadap beberapa kesalahannya. Saya mendapati di antaranya ralat dari ketergelinciran ini. Sebagai perwujudan sikap adil, maka kamipun menyebutkan ruju'nya. dengan tetap berhati-hati terhadap ralat dan metode yang digunakannya. la menamakan makalah tersebut dengan judul Mughalithat. la mengatakan: Yang ke-14: Saya telah mengatakan dalam sebuah kaset! Dengan judul "larilah kamu dari hizbiyyah sebagaimana larimu dari singa": "Barang siapa yang mewajibkan kepada manusia untuk menjadi seorang ikhwany, tablighy atau salafy maka ia harus diminta bertaubat. Jika ia mau bertaubat maka itu yang diharapkan dan jika tidak maka dibunuh."
"Ungkapan ini murni kesalahan dari saya dan saya beristighfar kepada Allah ‘Azza wa Jalla darinya. Maksud saya sebenarnya adalah orang yang melakukan hal tersebut sungguh telah membuat syariat baru. Akan tetapi bagaimana pun juga itu merupakan suatu kesalahan dan saya minta udzur. Sayapun meyakini bahwa madzhab salaf adalah madzhab yang benar dan wajib bagi seluruh manusia untuk mengikuti serta menelusuri jalannya”. Sekian nukilan dari lembaran tersebut.
[Dari: Al Ajwibah Al Mufidah ’an As’ilatil Manahij Al Jadidah; Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan; Penyusun: Jamal bin Furaihan al Haritsi; Edisi Indonesia: Jawab Tuntas Masalah Manhaj; Hal: 46-50; Penerjemah: Abu Hudzaifah Yahya dan Abu Luqman; Muroja’ah: Al Ustadz Abu Muhammad Idral Harits Tholib; Penerbit: Pustaka Al Haura’]
Cetak Halaman Ini

