Senin, Juli 14, 2008

Terlarangkah bagi orang yang menamakan dirinya dengan salafy atau atsary?

بسم الله الر حمن الر حيم

Soal 13: Apakah orang yang menamakan diri dengan salafi itu dianggap orang yang mengelompok?

Jawab:
Menamakan diri dengan salafiyyah jika memang benar-benar, maka tidaklah mengapa.26 Adapun hanya sekedar pengakuan, maka tidak boleh baginya untuk menamakan diri dengan salafiyyah sementara ia tidak berada di atas manhaj salaf.

Asy'ariyyah -misalnya- mengatakan "kami adalah ahlussunnah wal jama'ah". Ini tentunya tidak benar, karena mereka tidak berada di atas manhaj ahlussunnah wal jama'ah. Demikian juga mu'tazilah yang menamakan diri mereka sebagai orang-orang yang muwahid (bertauhid).

Semua mengaku punya hubungan dengan Laila
Sementara Laila menolak pengakuan mereka


Orang yang mengira bahwa ia berada di atas manhaj ahlussunnah wal jama'ah tentu ia akan mengikuti jalannya ahlussunnah wal jama'ah dan meninggalkan orang-orang yang menyelisihinya. Adapun jika ia menginginkan untuk menyatukan antara dhab (biawak padang pasir-ed) dengan ikan paus -sebagaimana yang mereka katakan- artinya menyatukan antara binatang melata padang pasir dengan binatang laut, maka ini mustahil. Begitu juga menyatukan antara api dengan air dalam satu wadah. Oleh karenanya ahlussunnah tidak akan pernah bersatu dengan madzhab orang yang menyelishinya seperti khawarij, mu'tazilah dan para hizbiyyun (orang-orang yang membuat golongan sendiri dan membangun loyalitas serta permusuhan di atasnya, pent.) dari mereka yang menamakan diri sebagai muslim masa kini. Orang tadi ingin menyatukan anatara kebathilan orang sekarang dengan manhaj salaf, "maka tidak ada yang dapat memperbaiki akhir dari umat ini kecuali sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya". Ringkasnya, wajib untuk memisahkan dan membersihkan segala perkara.
_______________________________

[26] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Fatawa (4/149) dengan redaksi sebagai berikut: "Tidak ada cela bagi orang yang menampakan manhaj salaf dan menisbatkan diri kepadanya bahkan wajib menerima penisbatan tersebut darinya secara ijma'. Karena manhaj salaf dipastikan kebenarannya."

Saya katakan: Perhatikan, wahai pembaca!! Ucapan Syaikhul Islam yang telah beliau sampaikan delapan abad yang lalu. seakan-akan beliau membantah sebagian orang sekarang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu sementara ia mengatakan: Barang siapa mewajibkan kepada salah seorang untuk menjadi seorang ikhwani, salafi, tablighi ataupun sururi, maka ia harus diminta bertaubat. Jika ia mau bertaubat maka itu yang diharapkan dan jika tidak maka dibunuh!!

la mengatakannya dalam sebuah kaset yang tersebar luas di kalangan para pemuda dengan judul Firra minal Hizbiyyah Firaraka minal Asad (Larilah dari kekelompokon sebagaimana larimu dari kejaran singa, pent.). *)

Saya katakan: Subhanallah! Bagaimana bisa jiwanya merasa lapang untuk mengumpulkan antara manhaj salaf yang banar dengan berbagai manhaj dan kelompok bid'ah yang sesat serta salah?!

Pertanyaan kita terhadap orang yang hidup di negeri tauhid ini -dengan tesisnya dalam bidang hadits dan telah mencapai gelar Doktor baru-baru ini-: Jika kamu tidak mau jadi salafy, mau jadi apa kamu ini?!

Al 'Alamah Abdul 'Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah telah ditanya: Apa pendapat anda tentang orang yang menamakan dirinya dengan salafy atau atsary. Apakah Itu merupakan rekomendasi terhadap diri sendiri?

Beliau yang terhormat rahimahullah menjawab: Jika ia benar-benar seorang atsary atau salafy, maka tidaklah mengapa. Sebagaimana ulama salaf mengatakan: fulan salafy, fulan atsary, merupakan rekomendasi yang mesti dan wajib dilakukan. Dari ceramah kaset dengan judul "Hak seorang muslim" pada tanggal 16/1/1413 H di kota Thaif.

Asy Syaikh Bakr Abu Zaid berkata: Jika dikatakan; salaf, salafiyyun atau kepada nenek moyang mereka salafiyyah (yang telah berlalu), maka ini merupakan nisbat kepada salafusshalih yaitu seluruh shahabat dan semua orang yang mengikuti mereka dengan baik Bukannya orang yang cenderung kepada hawa nafsunya. Orang-orang yang kokoh di atas manhaj nabi, mereka dinisbatkan kepada para pendahulu mereka yang shalih dalam masalah ini. Maka dikatakan kepada mereka; salaf atau salafiyyun, sedangkan nisbat mereka salafy, karena kata salaf yang dimaksud adalah salafusshalih.

Kata ini jika disebut begitu saja (tanpa embel-embel), maka yang dimaksud adalah semua orang yang berjalan meneladani para shahabat walaupun ia hidup di masa kita ini. Seperti inilah ucapan para ulama.

Penisbatan ini sama sekali tidak mempunyai pengaruh yang mengeluarkan dan konsekuensi kitab dan sunnah. Ini merupakan penisbatan yang tidak pernah terpisahkan dari generasi pertama walau hanya sekejap. Bahkan penisbatan ini merupakan bagian dari mereka dan kepada mereka. Adapun orang yang menyelisihi mereka dengan sebuan nama atau simbol maka tidaklah seperti itu walaupun ia hidup di tengah-tengah dan di masa mereka. Hukmul Intima' hal.46 cet. ke-2.

Beliau juga mengatakan: Jadilah kamu seorang salafy yang benar-benar. Hilyah Thalibi Ilmi halaman 8.

Saya katakan: Penisbatan seperti ini biasa digunakan dalam kitab-kitab biografi dan sejarah.

Ini Al Imam Adz Dzahabi berkata tentang biografi Muhammad bin Muhammad Al Bahrani: Beliau seorang yang beragama, baik dan salafy. Mu'jam Asy Syuyukh (2/34)

Maka penisbatan kepada salaf merupakan penisbatan yang semestinya dilakukan sehingga menjadi jelas orang yang benar-benar salafy dari orang yang bersembunyi di belakang mereka dan sehingga perkaranya menjadi tidak samar bagi setiap orang yang ingin meneladani mereka serta menenun dengan alat tenun mereka.

Apabila madzhab-madzhab yang menyimpang dan kelompok-kelompok yang sesat serta menyesatkan itu semakin banyak, maka orang yang berada di atas kebenaran akan mengumumkan penisbatan mereka kepada salaf dalam rangka berlepas diri dari orang-orang yang menyelisihinya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada nabi-Nya dan kaum mukminin:

"Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Ali 'Imran 6)

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?"

"Dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik."

*) Setelah selesainya kitab ini sampai kepadaku beberapa lembar kertas yang berisi ralat dari 'Aidh Al Qarni terhadap beberapa kesalahannya. Saya mendapati di antaranya ralat dari ketergelinciran ini. Sebagai perwujudan sikap adil, maka kamipun menyebutkan ruju'nya. dengan tetap berhati-hati terhadap ralat dan metode yang digunakannya. la menamakan makalah tersebut dengan judul Mughalithat. la mengatakan: Yang ke-14: Saya telah mengatakan dalam sebuah kaset! Dengan judul "larilah kamu dari hizbiyyah sebagaimana larimu dari singa": "Barang siapa yang mewajibkan kepada manusia untuk menjadi seorang ikhwany, tablighy atau salafy maka ia harus diminta bertaubat. Jika ia mau bertaubat maka itu yang diharapkan dan jika tidak maka dibunuh."

"Ungkapan ini murni kesalahan dari saya dan saya beristighfar kepada Allah ‘Azza wa Jalla darinya. Maksud saya sebenarnya adalah orang yang melakukan hal tersebut sungguh telah membuat syariat baru. Akan tetapi bagaimana pun juga itu merupakan suatu kesalahan dan saya minta udzur. Sayapun meyakini bahwa madzhab salaf adalah madzhab yang benar dan wajib bagi seluruh manusia untuk mengikuti serta menelusuri jalannya”. Sekian nukilan dari lembaran tersebut.

[Dari: Al Ajwibah Al Mufidah ’an As’ilatil Manahij Al Jadidah; Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan; Penyusun: Jamal bin Furaihan al Haritsi; Edisi Indonesia: Jawab Tuntas Masalah Manhaj; Hal: 46-50; Penerjemah: Abu Hudzaifah Yahya dan Abu Luqman; Muroja’ah: Al Ustadz Abu Muhammad Idral Harits Tholib; Penerbit: Pustaka Al Haura’]

Baca Selengkapnya »»

Benarkah Jama'ah Tabligh berjalan di atas Manhaj Ahlusunnah?

بسم الله الر حمن الر حيم


Soal 11: Jama'ah tabligh -sebagai contoh- mengatakan "kami ingin berjalan di atas manhaj ahlussunah wal jama'ah" akan tetapi sebagian mereka terkadang melakukan kesalahan. Kemudian mereka berkata "bagaimana kalian menghukumi kami (sesat, pent) dan mentahdzir kami?"

Jawab:
Telah ditulis tentang jama'ah tabligh oleh orang yang pergi dan terjun langsung bersama mereka. Orang-orang tersebut banyak menulis tentang mereka dan menyebutkan kesalahan-kesalahannya. Maka semestinya kalian membaca perihal mereka sehingga menjadi jalas bagi kalian hukum dalam masalah ini.25 Alhamdulillah Allah ‘Azza wa Jalla telah menjadikan kita tidak butuh mengikuti fulan dan fulan. Bagi kita cukup jalan ahlussunah wal jama'ah yang selalu kita pegang sehingga kita tidak butuh lagi dari jama'ah tabligh atau selainnya. Maka tidak ada lagi setelah kebenaran melainkan kesesatan.

Adapun hakikat jama'ah tabligh maka telah banyak ditulis karya tentang mereka. Telaahlah karya-karya tersebut niscaya kalian akan mengetahuinya dan orang-orang yang menulis tentang jama'ah tabligh adalah mereka yang telah pergi dan bergaul bersama mereka sehingga apa yang mereka tulis itu benar-benar berdasarkan pengetahuan dan bukti.
______________________________

[25] Di antara yang telah menulis tentang jama'ah tabligh, di mana beliau telah berusaha keras memberikan banyak manfaat serta menjelaskan tentang jalan mereka, adalah:

Yang mulia Asy Syaikh Sa'ad bin Abdur Rahman Al Hushain hafizhahullah dalam kitabnya yanq berjudul Haqiqatud Dakwah Ilallah wamakhtushat bihi Jaziratul 'Arab wa Taqwimu Manahiji Ad Da'awat Al Islamiyyah Al Wafidah Ilaiha yang berperan dalam mengeluarkan dan mencetaknya adalah yang mulia Asy Syaikh Falih bin Nafi' Al Harbi, di halaman 70 cetakan pertama tentang makna kalimat Laa ilaha illallah menurut jamaah tabligh yaitu "mengeluarkan keyakinan yang rusak terhadap seluruh perkara dari hati dan memasukkan keyakinan yang benar terhadap dzat Allah ‘Azza wa Jalla bahwasanya tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada pemberi rizki selain Allah dan tidak ada pengatur selain Allah."

"Makna ini tidak lebih dari sekedar tauhid rububiyyah yang juga diakui oleh kaum musyrikin di masa nabi akan tetapi hal itu tidak memasukan mereka kedalam agama islam."

Beliau juga berkata di halaman 70: "Keyakinan mereka -yaitu jama'ah tabligh- adalah hanafiyah dalam madzhab fiqih, asy'ariyyah maturidiyyah dalam aqidah dan jistiyyah, naqsabandiyyah, qadiriyyah, sahrawardiyyah dalam tarekat sufi." Halaman 81 cetakan kedua.

Asy Syaikh Hamud bin Abdillah At Tuwaijiri rahimahullah telah menulis tentang mereka dalam sebuah kitab yang sangat bagus dan tiada duanya dalam bab ini. Beliau secara panjang lebar menjelaskan tentang kelompok ini di mana beliau menggabungkan antara penjelasan hakikat jama'ah ini dari buku-buku mereka berikut bantahan terhadapnya dan antara persaksian para saksi yang adil dari kalangan mereka sendiri atau -selainnya-dari orang-orang yang punya hubungan khusus dengan para tokoh dan pengikut mereka. Kitab tersebut telah tercetak -walhamdulillah- dengan judul Al Qaulul Baligh fit Tahdhir min Jama'atit Tabligh.

Orang lain yang telah menulis tentang mereka adalah Al Mijar Muhammad Aslam rahimahullah. la adalah seorang yang berkebangsaan Pakistan dan termasuk alumnus Jami'ah Islamiyyah di Madinah Munawwarah.

DR. Muhammad Taqiyyudin Al Hilali rahimahullah juga telah menulis tentang jama'ah tabligh dalam kitab beliau As Sirajul Munir fi Tambihi Jama'atit Tabligh 'ala Akhtha'ihim yang merupakan kitab paling luas yang menulis tentang jama'ah tabligh dan merupakan syarah dari kitab Muhammad bin Aslam.

Menjadi sangat jelas bagi kebanyakan orang yang dulunya tertipu oleh jama'ah tabligh tantang hakikat urusan mereka sehingga ia memboikot dan memperingatkan umat darinya.

Cukup sebagai satu celaan bagi mereka bahwa mereka tidak mementingkan dakwah kepada tauhid bahkan menjadikan manusia lari darinya dan dari orang yang menyeru kepadanya.

Dikatakan kepada orang yang tertipu dengan jama'ah sufiyyah yang terselubung ini dari orang yang telah khuruj (keluar) bersama mereka: Bagikan kitab-kitab Al Imam Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah seperti kitabut tauhid ketika khuruj bersama mereka, kemudian perhatikan tanggapan mereka dan bagaimana mereka berubah dari kebaikan akhlak yang dibuat-buat menjadi liar dan biadab, dan dari sikap yang bersahabat menjadi kebencian serta permusuhan. Ini merupakan perkara yang telah terbukti dan dengannya akan tersingkap urusan mereka bagimu. Mufti negara Saudi Arabia dan kepala para hakim serta kepala badan urusan keislaman di masanya Asy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alus Syaikh rahimahullah berkata dalam fatwa dan risalah beliau (1/267):

"Yayasan ini -yaitu yayasan dakwah dan tabligh al islamiyah- tidak ada kebaikan padanya. Karena merupakan yayasan bid'ah dan sesat. Melalui bacaan beberapa buku kecil (pegangan mereka), saya mendapati di dalamnya ada kesesatan, bid'ah dan ajakan untuk menyembah kubur serta kesyirikan." Diringkas dari Tarikh Al Fatawa 29/1/1382 H.

Mufti umum kerajaaan Saudi Arabia di masanya Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata dalam majalah dakwah As Su'udiyah edisi 1438 tanggal 3/11/1414 H: "Jama'ah tabligh tidak mempunyai ilmu dalam masalah aqidah, sehingga tidak boleh khuruj (keluar untuk dakwah) bersama mereka."

Beliau juga mengatakan dalam jawaban beliau kepada seorang penanya: "Apakah jamaah tabligh masuk dalam tujuh dua kelompok (yang berhak masuk neraka)?"

"Benar, masuk dalam tujuh puluh dua kelompok tersebut. Semua yang menyelisihi aqidah ahlussunnah masuk dalam tujuh puluh dua kelompok tersebut." Majalah Salafiyah edisi ke-7 halaman 47 tahun 1422 H.

Ahli hadits negeri Syam Al Allamah Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah berkata: "Jamaah Tabligh tidak tegak di atas manhaj kitab dan sunnah serta apa yang salafusshalih berada di atasnya, maka tidak boleh khuruj bersama mereka." (Al Fatawa Al Imaratiyyah).

[Dari: Al Ajwibah Al Mufidah ’an As’ilatil Manahij Al Jadidah; Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan; Penyusun: Jamal bin Furaihan al Haritsi; Edisi Indonesia: Jawab Tuntas Masalah Manhaj; Hal: 44-46; Penerjemah: Abu Hudzaifah Yahya dan Abu Luqman; Muroja’ah: Al Ustadz Abu Muhammad Idral Harits Tholib; Penerbit: Pustaka Al Haura’]

Baca Selengkapnya »»

Kamis, Juni 19, 2008

Haruskah kita menyebutkan kebaikan orang yang kita tahdzir?

بسم الله الر حمن الر حيم

Soal 10: Apakah mengharuskan kita, menyebutkan kebaikan orang yang kita tahdzir (orang yang kita peringatkan agar manusia menjauhinya, pent.)?

Jawab:
Jika kamu sebutkan kebaikan mereka artinya kamu sedang mengajak untuk mengikuti mereka. Jangan, jangan kamu sebutkan kebaikan mereka.23 Sebutkan kesalahan yang ada pada mereka saja24 karena tidak ada kewajiban atasmu untuk merekomendasi perbuatan mereka. Kamu hanyalah berkewajiban menerangkan kesalahan yang ada pada mereka agar mereka bertaubat dari perbuatannya dan agar manusia waspada darinya. Kesalahan yang ada pada mereka barangkali melenyapkan semua kebaikannya jika kesalahan ltu berupa kekafiran atau kesyirikan dan terkadang kesalahan mereka lebih besar daripada kebaikannya. Terkadang juga kebaikan itu hanya menurut pandanganmu saja tapi bukan kebaikan menurut Allah ‘Azza wa Jalla.

______________________

23) Dalam menyebutkan kebaikan ahli bid'ah ada unsur penipuan terhadap manusia walaupun kamu sebutkan kejelekkannya karena mereka tidak akan memandang kepada kejelekan tersebut selama kamu memujinya dengan kebaikan. Bukanlah termasuk manhaj salaf menyanjung ahli bid'ah ketika mengkritiknya.

Inilah Al Imam Ahmad rahimahullah beliau tidak memuji Husain Al Karabisi tatkala menjelaskan keadaannya, beliau hanya mengatakan ahli bid'ah bahkan beliau memperingatkan darinya dan orang bermajelis dengannya. Demikian pula beliau memperingatkan dengan peringatan yang keras dari bermajelis dengan Al Muhasibi. Akan datang penukilannya pada foot note no. 49.

Ini Abu Zur'ah rahimahullah beliau ditanya dengan Al Harits Al Muhasibi dan buku-bukunya, maka beliau mengatakan kepada penanya: "Hati-hati kamu dari buku-buku ini. Ini adalah buku-buku bid'ah dan sesat. Peganglah olehmu atsar (hadits)."

Tidak tersembunyi lagi bagimu, -wahai saudara pembaca- bahwa Al Karabisi dan Al Muhasibi termasuk lautan ilmu. Mereka juga mempunyai banyak bantahan terhadap ahli bid'ah akan tetapi yang pertama terjatuh dalam pendapat bahwa Al Qur'an makhluk sedangkan yang kedua terjatuh dalam ilmu kalam dan ia membantah ahli kalam dengan Ilmu kalam pula bukannya membantah dengan sunnah. Inilah point terpenting yang diingkari oleh AI Imam Ahmad terhadapnya. Silahkan melihat At Tahdzib (2/117), Tarikh Baghdad (8/215-216) dan As Siar karya Adz Dzahabi (13/110) (12/79).

24) Ini buku-buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagai bukti terbesar tidak disebutnya kebaikan ahli bid’ah tatkala menyebut bid’ah mereka. Buku-buku tersebut penuh dengan bantahandan kritikan. Beliau membantah ahli mantik dan ahli kalam. Beliau juga membantah jahmiah, mu'tazilah, serta asy'ariyah sementara kita tidak mendapati sedikitpun beliau menyebutkan kebaikan mereka. Beliau juga mengkritik individu tertentu, seperti bantahan terhadap Al Akhna'i, Al Bakri dan selainnya. Padahal tidak seorangpun meragukan bahwa mereka masih punya kebaikan, akan tetapi memang tidak harus menyebutkan kebaikan ketika mengkritik maka perhatikan baik-baik.

Rafi' bin Asyras rahimahullah berkata: "Di antara hukuman bagi orang fasik pelaku bid'ah adalah tidak disebutkan kebaikannya." Syarah 'llalit Tirmidzi (1/353)

[Dari: Al Ajwibah Al Mufidah ’an As’ilatil Manahij Al Jadidah; Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan; Penyusun: Jamal bin Furaihan al Haritsi; Edisi Indonesia: Jawab Tuntas Masalah Manhaj; Hal: 31-32; Penerjemah: Abu Hudzaifah Yahya dan Abu Luqman; Muroja’ah: Al Ustadz Abu Muhammad Idral Harits Tholib; Penerbit: Pustaka Al Haura’]

Baca Selengkapnya »»

Rabu, Juni 18, 2008

Peringatan dari kelompok-kelompok dan partai-partai masa kini

بسم الله الر حمن الر حيم

Soal 9: Apakah ada larangan dalam memperingatkan manusia dari kelompok-kelompok yang menyelisihi manhaj ahlussunnah ini?

Jawab:
Secara umum kita memperingatkan setiap orang yang menyimpang22 dan kita katakan; kita konsekuen dengan jalannya ahlussunnah dan meninggalkan orang yang menyelisihinya, sama saja apakah penyelisihan itu besar atau kecil, karena apabila kita meremehkan suatu penyelisihan barangkali perkaranya akan berkembang dan bertambah besar. Maka penyelisihan selamanya tidaklah diperbolehkan. Dan wajib tetap konsekuen berpegang dengan jalan ahlussunnah wal jama'ah dalam menyikapi setiap penyelisihan yang besar maupun kecil.
______________________

22) Seperti inilah kegigihan ulama salaf. Mereka tidak hanya tinggal diam, bahkan mereka mengingkari orang yang mendiamkannya.

Muhammad bin Bandar berkata kepada Al Imam Ahmad: "Sesungguhnya terasa berat bagi saya untuk mengatakan fulan seperti ini dan fulan seperti ini." Al Imam Ahmad berkata: "Seandainya kamu diam dan saya juga diam maka kapan orang jahil akan mengetahui hadits yang shahih dari hadits yang berpenyakit?" Majmu' Al Fatawa (28/ 231 ) dan Syarah Ilalit Tirmidzi (1/350).

Ketika Al Imam Ahmad ditanya tentang Husain Al Karabisi beliau mengatakan kepada penanya: "Dia seorang ahli bid'ah."

Beliau berkata di tempat yang lain: "Hati-hatilah kamu, hati-hatilah kamu dari Husain Al Karabisi. Jangan berbicara dengannya dan dengan orang yang berbicara dengannya" -beliau mengatakannya empat atau lima kali-. Silahkan melihat Tarikh Baghdad (8/65).

Bahkan para salaf berpandangan bahwa mencela ahli bid'ah itu lebih utama dari puasa, shalat sunnah dan i'tikaf.

Dikatakan kepada Al Imam Ahmad: "Apakah seseorang yang berpuasa, shalat sunnah dan beri'tikaf lebih engkau sukai ataukah orang yang mencela ahli bid'ah?" Beliau menjawab: "Apabila ia berpuasa, shalat dan beri'tikaf itu hanya untuk dirinya sendiri sedangkan jika ia berbicara tentang ahli bid'ah maka itu untuk kepentingan kaum muslimin, tentu yang seperti ini lebih utama." Majmu' Al Fatawa (28/231)

[Dari: Al Ajwibah Al Mufidah ’an As’ilatil Manahij Al Jadidah; Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan; Penyusun: Jamal bin Furaihan al Haritsi; Edisi Indonesia: Jawab Tuntas Masalah Manhaj; Hal: 42-43; Penerjemah: Abu Hudzaifah Yahya dan Abu Luqman; Muroja’ah: Al Ustadz Abu Muhammad Idral Harits Tholib; Penerbit: Pustaka Al Haura’]

Baca Selengkapnya »»

Apakah boleh bergaul dengan kelompok-kelompok dan partai-partai masa kini

بسم الله الر حمن الر حيم

Soal 8: Apakah jama'ah-jama'ah tersebut boleh diajak bergaul atau bahkan harus diboikot?

Jawab:
Bergaul dengannya, jika bertujuan untuk mendakwahi mereka -bagi orang yang mempunyai ilmu dan bashiroh (ilmu dan keyakinan, pent.)20- untuk berpegang dengan sunnah dan meninggalkan kesalahan maka ini baik dan termasuk dakwah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun jika bergaul bersama mereka untuk tujuan beramah-tamah dan persahabatan dengan mereka tanpa berdakwah dan menjelaskan (yang benar, pent.) maka ini tidak boleh.

Oleh karenanya tidak boleh bagi seseorang untuk bergaul bersama orang-orang yang menyimpang kecuali apabila ada manfaat yang syar'i seperti mendakwahi mereka kepada Islam yang benar dan menerangkan kebenaran, barang kali mereka akan kembali21 sebagaimana Ibnu Mas'ud pergi menemui ahli bid'ah yang berada di masjid kemudian beliau berdiri di hadapan mereka dan mengingkari bid'ahnya. Juga Ibnu Abbas yang pergi menemui orang-orang khawarij, mengajak mereka berdiskusi dan membantah syubhat-syubhat mereka sehingga sebagian dari mereka kembali kepada kebenaran.

Bergaul bersama mereka apabila keadaannya seperti ini maka itulah yang dituntut. Sedangkan jika mereka keras kepala di atas kebatilannya maka wajib untuk meninggalkan dan mencampakkan mereka serta berjihad melawan mereka di jalan Allah ‘Azza wa Jalla.
_______________________

20) Ini benar jika ditinjau secara perorangan. Sangat dimungkinkan bisa mendakwahi dan mempengaruhi mereka. Adapun dengan meninjau sisi untuk merubah manhaj dan mempengaruhi simbol-simbolnya, maka yang seperti ini tidaklah mungkin -secara keseluruhan-. Bahkan terkadang ahli bid'ah tersebut yang justru akan mempengaruhi orang yang bergaul dengannya, bukannya ia yang akan mempengaruhi mereka.

Kelompok-kelompok ini -secara umum- dakwahnya tidaklah keluar dari doktrin-doktrin para pimpinannya seperti ikhwanul muslimin dan jama'ah tabligh. Betapa banyak orang-orang ikhlas yang telah menasehati mereka? dan betapa banyak ditulis buku tentang mereka? Akan tetapi sampai sekarang "daganganmu tidak laku" (artinya saya tidak mau menerima pendapatmu, pent.) sebagaimana dikatakan. Inilah beberapa bukti dari apa yang saya katakan:

Hasan Albana pendiri kelompok ikhwanul muslimin mengatakan dalam kitab Majmu'ur Rasail hal. 24 di bawah judul sikap kita terhadap berbagai macam dakwah;

Sikap kita terhadap dakwah yang sangat bemacam-macam adalah menimbangnya dengan timbangan dakwah kita. Siapa saja yang sesuai, maka selamat datang dan siapa saja yang menyelisihi, kitapun berlepas diri darinya!!

Saya katakan: Ya Allah, saksikanlah bahwa saya berlepas diri dari dakwah ikhwanul muslimin serta pendirinya yang menyelisihi kitab dan sunnah serta apa yang ulama salaf berada di atasnya.

Alasan inilah yang menyebabkan mereka tidak mau menerima dakwah siapapun karena mereka menginginkan dakwah selain mereka mengikuti dan tunduk terhadap dakwah mereka. Wallahu a'lam.

21) Apabila memang mesti bergaul bersama mereka untuk mendakwahi dan menjelaskan manhaj salaf, maka jangan dilakukan kecuali oleh para ulama atau penuntut ilmu yang yang telah mantap dalam aqidah yang benar, sunnah serta manhaj salafusshalih. Jika tidak demikian, maka jangan dilakukan.

[Dari: Al Ajwibah Al Mufidah ’an As’ilatil Manahij Al Jadidah; Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan; Penyusun: Jamal bin Furaihan al Haritsi; Edisi Indonesia: Jawab Tuntas Masalah Manhaj; Hal: 41; Penerjemah: Abu Hudzaifah Yahya dan Abu Luqman; Muroja’ah: Al Ustadz Abu Muhammad Idral Harits Tholib; Penerbit: Pustaka Al Haura’]

Baca Selengkapnya »»